Interview Beasiswa LPDP

7 Juni 2013

2013-06-07 10.27.28Dengan mata masih terkantuk-kantuk (secara jam 4 subuh), berangkatlah saya dan teman saya ke Jakarta (dari BTC-Bandung) dengan travel yang masih tersisa (karena hampir penuh semua). Setelah kurang lebih 2,5 jam perjalanan, sampailah kita di pool Blora, Jakarta, lanjut naik taksi express (yang katanya tarifnya paling murah, tapi emang cuma 1 merk taksi yang ada di sekitar pool) ke Gedung Dhanapala, Kementrian Keuangan, yang ternyata sang supir taksi pun kurang begitu tahu dimana itu. Untunglah teman saya yang hi-tech menyalakan GPS-nya biar nggak kesasar teuing. Tapi berhubung masih pagi, jadi tenang saja kita menikmati kota Jakarta yang entah kenapa tidak terlalu macet (mungkin supir taksinya ambil jalan pintas).

Sampai di komplek Kementrian Keuangan yang besaarrr (ada tamannya pula ^^), cari-cari Gedung Dhanapala, sekitar jam 7 pagi (acara mulai jam 8 pagi), masih sepi. Mas-mas nya masih ngepel lantai. Sambil bilang permisi, permisi, kita dikasitahu untuk menunggu di kursi-kursi yang sudah disediakan di depan bank BNI. Dan sudah ada beberapa orang, yang diprediksi 99%, sama seperti saya dan teman saya, akan mengikuti proses interview juga hari ini. Semakin mendekati jam 8, semakin ramai, dan akhirnya kami disuruh masuk ke Ballroom yang lumayan besar (biasanya untuk acara nikahan, ada lampu kristalnya gitu).

Sebelum masuk, kami disuruh mengecek kami masuk kelompok berapa. Batch interview saya ini kalau tidak salah ada sekitar 197 orang, dibagi 10 kelompok (masing-masing sekitar 20 orang/kelompok), campur sari dari yang apply magister/doktor-dalam/luar negeri, juga yang apply beasiswa tesis/desertasi. Setelah menunggu kerumunan sampai agak sepi, saya dan teman saya baru mengecek masuk kelompok berapa sih kami ini? Pastinya ini berhubungan dengan kelompok wawancara.

Masuk, sudah ada kursi-kursi yang disediakan di tengah, dan di pojok kanan-kiri ruangan sudah disediakan meja (sepertinya untuk interview) yang sudah ada tulisan kelompok 1-10. Jam 8 lewat sedikit, acara dimulai dengan perkenalan dengan para reviewer (yang nanti akan mewawancarai peserta) yang sangat banyak itu. Secara ada 10 kelompok, dan tiap orang akan di-interview oleh 3 orang ahli (2 orang profesor/doktor dan 1 orang psikolog) dari berbagai universitas negeri di Indonesia. (Btw, setelah saya cari-cari informasi, reviewernya ini juga diseleksi lho,hehe). Saat perkenalan, sang moderator kadang memberitahu beberapa psikolog yang suka membuat orang menangis / bikin orang nggak bisa berbunyi lagi. Entah apa maksudnya.

Selesai perkenalan, dilanjutkan pembukaan yang terbilang singkat (padahal sudah disediakan slide, yang pada akhirnya tidak habis ditampilkan semuanya, malahan hanya beberapa). Inti pembukaannya yang paling saya ingat adalah agar beasiswa ini sangat dihargai karena berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat kecil sampai besar.

Lalu, diceritakan juga kalau penerima beasiswa batch 1 sedang melakukan orientasi. Orientasinya sendiri katanya mendaki Gunung Salak, berkunjung ke Angkatan Laut, jalan-jalan ke perbatasan-perbatasan Indonesia (seru banget!),dll. Setelah itu, kita disuruh meninggalkan Ballroom, karena mau dibereskan untuk wawancara.

Karena saya, 2 teman seuniversitas saya, dan 1 teman baru semuanya kebagian paling akhir di hari yang sama (alias sore banget, sekitar jam 17.15 menurut jadwal), jadilah kita nongkrong di luar gedung, yang ada dudukan batunya. Soalnya walau di dalam gedung luas banget, tapi minim tempat duduk (kalau dibandingkan sama peserta interview-nya). Dan memang, para pelamar magister luar negeri ini ditempatkan gilirannya di akhir/keesokan harinya, setelah pelamar magister/doktor/tesis/desertasi dalam negeri, jadinya pastinya dapatnya sore banget. Untungnya, katanya prosesnya akan dipercepat.

Jadilah, kita ngobrol banyak di depan sambil menikmati snack  yang disediakan. Saat lagi nongkrong, disamperin Pak De, yang ternyata supir dari direktur utama lembaga ini. Beliau cerita banyak mengenai pekerjaannya dulu sebagai PNS yang gajinya cuma 75 perak (astaga!). Dan dulu dia makan beras yang bahkan lebih parah dari raskin. Jadi ketika beras itu digenggam, nggak keambil berasnya, jadilah dia ngakalin pakai bubuk agar-agar, biar nempel.

Beliau juga cerita banyak mengenai Pak Direktur. Katanya untuk jadi direktur utama lembaga ini, seleksinya susah dan ketat. Jadi nggak main-main lah. Dan ternyata, direkturnya ini adalah sepupu Pak JK. Sewaktu Pak JK menjabat sebagai wapres, Pak Direktur ditawarkan menjabat sebagai menteri. Akan tetapi, karena Pak Direktur ini passion-nya bergerak di bidang pendidikan, makanya dia menolak, dan merancang program beasiswa LPDP ini yang menyediakan beasiswa magister/doktor/tesis/desertasi-dalam/luar negeri, yang masih terbilang jarang di Indonesia. Lalu, awalnya Pak De ini nggak bisa nyupir. Tapi Pak Direktur memberi kesempatan kalau memang mau jadi supir beliau, Pak De bisa belajar nyetir dulu. Jadilah beliau sekarang menjadi supir pribadinya yang setia.

Akhirnya pembicaraan terhenti karena Pak De harus bertugas mengantar Pak Direktur. Dan karena sudah siang, kita makan siang di kantin di gedung yang sama, yang saya katakan Kantin Kejujuran. Karena kita memesan, lalu makanan+bon diantarkan, lalu dengan kesadaran sendiri, kita bayar di kassa. Lalu karena tempatnya cukup cozy, ada AC walau nggak terlalu kerasa, dan kursinya lumayan empuk (semacam sofa sih), kita nongkrong di sana sebentar sambil nunggu Jumat’an selesai.

Selesai makan, rasa ngantuk mulai menyerang (tipikal abis makan), dan rasanya pengen banget ngelonjorin ini kaki. Akhirnya, kita semua selonjoran dan tidur-tidur ayam di lantai 2, deket tempat sholat cewek. Karena sudah bosan menunggu, kita turun untuk menanyakan sudah sampai mana giliran wawancara, dan akhirnya kita stand-by di kursi-kursi depan BNI tsb, karena tinggal 2-3 orang lagi.

Ternyata lebih deg-deg-an nunggu di tempat itu, karena nama kita bisa dipanggil kapan saja sama petugasnya. Temen saya juga tiba-tiba dipanggil (padahal menurut jadwal seharusnya dia setelah saya, di kelompok yang berbeda). Hal itu dikarenakan, ada peserta yang tidak datang, jadi langsung diloncat. Akhirnya, saya cari nama di atas saya, supaya bisa siap-siap dipanggil gitu. Ditunggu-tunggu, lama juga saya nggak dipanggil-panggil (sampai nggak deg-deg-an lagi), dan akhirnya dipanggil juga untuk verifikasi dokumen terlebih dahulu di meja depan Ballroom. Sebelumnya saya melihat senior saya bolak-balik ke meja verifikasi ini (sepertinya sudah di-interview), yang usut punya usut, dia bermasalah dengan LoA (Letter of Acceptance) yang tidak ada kop surat-nya.

Selesai verifikasi (yang Puji Tuhan lancar sari saja), saya disuruh masuk ke ruangan sebelah, yang ternyata adalahhh… RUANG TUNGGU (lagi!). Ruang tunggu ini ada 2, by the way. Akhirnya, karena lama juga menunggunya (sekitar 30 menit), saya ngobrol sama kanan-kiri saya. Lumayan buat relax sih. Setelah akhirnya dipanggil (beneran) untuk wawancara, saya masuk ke dalam ballroom, dan menuju meja kelompok saya. Dari jauh saya mengenali psikolog-nya sebagai orang yang sering buat orang nangis, yang tadi pagi diperkenalkan moderator. Tapi saya nggak mikir apa-apa saat itu, fokus dong fokus, hehehe….

Pertama-tama saya diperkenalkan siapa saja reviewer saya. Psikolognya sangat ramah. Btw, psikolognya wanita semua. Ibu psikolognya menyapa saya menanyakan kok muka saya masih terlihat segar, padahal sudah sore. Spontan saya jawab, saya deg-deg-an, Bu. Ya tentu saja, semua rasa lelah, dll. itu hilang.

Lalu, dimulailah Pak Dosen di sebelah kiri bertanya. Dia membaca laptop di depannya dan menanyakan hal-hal yang tertulis di CV saya. Pertama-tama dia menanyakan pengalaman organisasi saya (terlihat sekali dia ingin mengecek apakah saya yang mengisi CV saya sendiri). Jadi, ya saya jawab sama dengan yang ada di CV. Lalu dia juga bertanya tentang kegiatan organisasi yang dia kurang familiar. Misalnya, saya pernah mengikuti unit Korps Sukarela dan dia tanya apa kegiatannya. Saya jawab donor darah. Lalu, beliau bertanya kalau saya juga ikutan donornya nggak. Saya jawab saja, saya juga mau, Pak, tapi kurang berat badannya. Spontan beliau dan ibu psikolog tertawa.

Dan terang sekali, dia banyak menanyakan tentang kelemahan CV saya, yaitu pengalaman sebagai seorang pemimpin. Saya memang tidak punya background kepemimpinan yang kuat. Ada, tapi tidak terlalu cemerlang lah. Beliau menanyakan bagaimana kalau saya mempresentasikan achievement saya di depan orang.

Lalu, beliau mulai bertanya mengenai essay saya. Dia tanyakan maksud beberapa kalimat di essay saya, seperti kalimat:

Selama masih ada pemimpin-pemimpin di negeri ini yang berjuang bagi Indonesia, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak turut serta mendukung gerakan yang sudah mereka mulai.

Saya jelaskan sebisa saya. Walaupun saya agak tegang dan menjelaskannya agak belopetan. Dia juga menanyakan bagian lain di essay saya, seperti menurut kamu “nasionalisme yang tinggi” itu seperti apa? atau “menjadi warga negara Indonesia yang baik dan taat aturan” itu gimana? Beliau juga menanyakan mengenai surat pernyataan yang sudah saya upload dan tanda tangan, apa isinya, seingat saya saja? Entah karena grogi, saya cuma ingat yang mengabdi kepada nusa dan bangsa. Lalu, dia menantang saya kalau saya disuruh ke Papua untuk mengajarkan mengolah hasil pangan disana bagaimana?

Lalu, lanjutlah pertanyaan dari Pak Dosen sebelah kanan. Sama dia lebih bertanya berdasarkan essay saya, dan bahkan dari kemampuan Inggris saya (hasil IELTS), yang nilainya pas sama persyaratan dari universitasnya. Dia juga menanyakan tentang rencana research saya, dalam bahasa Inggris, karena dalam rencana studi saya tidak lampirkan rencana riset saya. Dan ada pertanyaan agak menyimpang sih menurut saya, mengenai energi terbarukan, padahal saya mau studi di bidang pangan. Tapi, karena skripsi saya tentang energi terbarukan, saya jawab berdasarkan itu saja.

Terang sekali dia menekan saya (semacam di-agitasi saja). Setiap ada kesalahan/ketidakjelasan dalam jawaban saya, dia langsung menyerang di sisi negatifnya, tanpa memberikan kesempatan saya untuk menjelaskan/membela diri. Saya sudah sempat sangat ingin menyela, tapi akhirnya saya diam saja.

Selama saya diwawancara oleh kedua orang bapak dosen, ibu psikolog hanya memerhatikan saya dengan jeli sambil mencatat-catat entah apa. Saat giliran ibu psikolog bertanya (yang untungnya dengan senyum :)), saya cukup senang karena beliau membantu saya menjawab segala kesalah-pahaman yang terjadi dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, dengan memberikan pertanyaan yang sama, tetapi berbeda bentuk. Mungkin, beliau tahu saya gemes juga nggak dikasih kesempatan untuk membela diri. Beliau juga mengapresiasi academic perfomance saya, tapi juga mengingatkan kekurangan saya di kepemimpinan organisasi.

Pertanyaan-pertanyaan dari beliau sebenarnya cukup sederhana, lebih menyangkut personal kita. Dan terlihat sekali, beliau benar-benar mencermati detail essay saya. Dia bertanya seperti kira-kira masalah apa yang akan terjadi ketika di luar dan bagaimana mengatasinya. Dia juga bertanya mengenai surat rekomendasi saya yang mengatakan saya cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, bagaimana contohnya? Dia juga bertanya tentang LoA saya (yang baru saya dapat soft-copy-nya setelah selesai mendaftar). Dan walaupun beliau terus tersenyum, pertanyaannya sangat tajam dan mengena di hati saya. Terbukti di beberapa pertanyaan selanjutnya, tiba-tiba saya tidak tahan untuk tidak menangis. Ditambah beliau bilang, tidak apa-apa (kalau saya menangis), akhirnya banjir lah saya di sana. Tapi karena lagi fokus wawancara, saya tetap menjawab, walau air mata berseliweran kemana-mana.

Di akhir wawancara, beliau memberi kesimpulan tentang diri saya, atau mungkin lebih tepatnya saran perbaikan untuk saya supaya saya bisa mengatasi kekurangan saya. Pak Dosen di sebelah kanan, juga ikut memberi saya banyak wejangan (katanya karena saya sudah jauh-jauh dari Bandung, supaya tidak pulang dengan tangan kosong). Beliau kembali mengingatkan saya mengenai beasiswa yang berasal dari rakyat Indonesia dan supaya betul-betul menghargainya, apalagi saya berasal dari universitas negeri (yang notabene biaya kuliahnya ada yang merupakan subsidi dari pemerintah), kalau nanti saya jadi berangkat. Dan walaupun orangnya sangat keras (waktu interview saya), di akhir beliau mengapresiasi bagian prestasi dari CV saya dan mengatakan “Kamu itu sebenarnya punya talent.” Saya cukup senang, karena saya tahu beliau jujur.

Saya mengucapkan banyak terima kasih dan menyalami mereka satu-satu, dimana masing-masing genggaman mereka waktu salaman sangat kuat. Saya buru-buru menyeka air mata saya, walau masih kelihatan banget sama teman saya yang menunggu (dia sudah selesai wawancara). Selesai wawancara ini, saya merasa sangat mendapat banyak pelajaran, sampai-sampai saya rela apapun hasil akhirnya nanti, walaupun saya nanti tidak diterima, karena penilaian yang mereka lakukan sangat fair. Saya sudah menjadi diri saya sendiri saat diwawancara, terserah mereka menilai saya qualified atau tidak. Setiap pesan yang mereka sampaikan, benar-benar menjadi pengalaman dan pelajaran berharga buat saya.

Lalu, mulailah saya dan teman saya berbagai cerita mengenai interview, yang berbeda banget dengan yang saya rasakan. Salah satu teman saya interview-nya ketawa-ketawa, tapi “berisi”. Dia sendiri bilang kalau dia nggak bisa bohong di interview ini, karena baik dosen/psikolognya sepertinya tahu kalau dia ragu-ragu. Tapi dia juga bingung karena psikolog-nya bisa dibilang SKSD, begitu menemukan kesamaan dalam percakapan mereka. Bahkan sampai ditanya kenapa belum punya pacar, nggak mau nyangkut atau nggak mau di-“sangkut”-in, hahahaha… Kocak banget!

Ada juga teman saya yang di-interview full bahasa inggris. Dan ternyata ada masalah juga karena dokumen yang dia sudah upload tidak ada. Jadilah dia menerangkan semua yang dia tulis. Ada juga teman saya yang lain bercerita kalau dia hanya ditanyakan pertanyaan-pertanyaan tipikal wawancara beasiswa (seperti kalau tidak keterima beasiswa ini, bagaimana?). Btw, teman saya yang satu ini, saat dokumennya sudah diverifikasi, dan menunggu di ruang tunggu, dia “kelewat” untuk diwawancara, jadi orang di bawahnya lebih dahulu diwawancara. Untung dia inisiatif tanya (karena sudah lama banget menunggu). Mungkin petugasnya juga sudah capek, dari pagi, dan kerjaannya mondar-mandir gitu.

So, kesimpulannya, saat diwawancara ini persiapkan sebaik mungkin, dan jadilah diri sendiri saja, tidak perlu dilebih-lebihkan/dikurang-kurangkan, karena semua reviewer-nya profesional dan expert di bidangnya (apalagi psikolognya, hehe…). Dan mengenai tipe wawancaranya akan seperti apa tergantung banget sama reviewernya. Tapi pertanyaannya nggak jauh-jauh dari semua yang kita tulis dan upload kok. Tapi terlebih dari semua, nikmati saja proses wawancaranya, karena menurut saya benar-benar berkualitas dan memberikan banyak pengalaman baru. Cheers! 

:: Another useful blog for LPDP interview (written by LPDP’s reviewer)http://motivasibeasiswa.org/2013/06/18/beasiswa-lpdp-beasiswa-calon-calon-pemimpin-bangsa-info-tips-seorang-reviewer/

:: Another blog for LPDP interview (written by LPDP’s awardee)http://theandikawijaya.blogspot.com/2013/07/tips-memperoleh-beasiswa-lpdp-2.html

:: Grup FB : https://www.facebook.com/groups/beasiswalpdp2013/

Advertisements

125 thoughts on “Interview Beasiswa LPDP

  1. Lagi search bahan buat nulis artikel sejenis, ternyata ada rekan batch #2 yang dah nulis duluan.
    hehehe..

    Ku-share link ke blog ini di artikel-ku yaa… 🙂

  2. Artikelnya bermanfaat dan buat saya tertarik dengan beasiswa lpdp ini, hehe. Btw, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan:

    1. Untuk mendaftarkan diri di program beasiswa S2 penuh (bukan beasiswa tesis/disertasi) ini waktunya sebelum kita diterima di Universitas yang bersangkutan atau sesudah kita diterima di Universitas tersebut?
    2. Kuota penerima beasiswa ini kira-kira ada berapa banyak?
    3. Apakah ada syarat tidak boleh menikah selama pendidikan? hehe.

    Terima kasih.

    • Sipp 🙂
      1. Beasiswa LPDP ini bukan untuk yg on-going sedang kuliah. Mungkin lebih tepatnya utk yg sdh memiliki LoA (diterima di univ) tp belum msk taun ajarannya.TAPI,kalaupun blum punya LoA (blum diterima) pun bisa apply, dan kalo dapet beasiswanya, dikasi waktu 1 thn utk dapetin LoA. Jd mungkin enaknya apply beasiswanya barengan sama daftar univ nya (utk dpt LoA) ^^
      2. Menurut berita di koran, jatahnya itu 1500 org/tahun (utk smua beasiswa s2/s3/tesis/desertasi). Utk taun ini baru 1000 org yg dpt beasiswa ini dr 13rb pendaftar. Katanya kebanyakan gagal di tahap administrasi dmn dokumennya tidak lengkap/salah (misal diminta toefl,tp yg diupload sertifikat les bahasa). Tp kalopun gagal, bole bgt apply berkali2.
      3. Hahaha, pas pengayaan ada nanya yg hal serupa. Boleh lha menikah, sama orang bulenya jg (klo ketemu dsna misal),asal kembali ke tanah air,hehe.. Bahkan, ada pasangan suami-istri yg apply beasiswa ini dan mrk b2 keterima, di pengayaan 1 kel pula (pdhl dibagi acak). Jodoh emg ga kmn,hahaha…

    • Waduh, saran saya sih lbh baik jangan, soalnya isinya bener2 personal, ttg rencana masa depannya gimana… Biasanya nanti bakal terpengaruh kalo uda baca punya orang lain. Lagipula kemungkinan besar bakal ditanya isi essaynya, jadi kalo nulis sendiri pasti ngerti banget isinya. 🙂 🙂

  3. mohon informasinya, kak.. misalnya dapet LoA bulan Mei, dan bulan September sudah masuk kuliah di LN, lalu apply beasiswa lpdp sebaiknya kapan ya? LPDP tu dibuka saat kapan aja sih, Kak..terimakasih..

    • Sekarang juga daftar 😀 LoA masih bisa menyusul (ketika itu saya tidak meng-upload LoA waktu daftar karena belum dapet, tapi saya bawa pas wawancara). Pendaftaran LPDP buka sepanjang tahun, akan tetapi untuk tahap wawancara akan ada waktu khusus (sepertinya tiap bulan) dan waktunya masih tidak tentu, mungkin harus sering2 cek website/grup fb-nya untuk info ter-update.

    • Sepertinya untuk sertifikat tidak wajib untuk diverifikasi. Yang wajib itu seperti ijazah, transkrip, LoA,dll. Pengalaman saya dulu, sertifikat tidak diverifikasi, tapi mungkin bisa ditunjukkan pada waktu wawancara untuk menambah nilai plus yang relevan dengan bidang studi yang akan diambil.

  4. saya berencana mendaftr utk s3 luar negeri cm bingung soalny ijazah asli dan trqnskip saya yg s1 belum ketemu tp sy masih puny legalisir ijazah dan traskipny , apakah boleh hanya bawa legalisir traskip dan ijazah s1 sdng s2 sy msh lngkp baik asli maupun legalisirny dr kedubes jepang.jawab ke email sy ya terima kasih. bambangwahono80@yahoo.co.id

  5. Mbak Ana, saya mau bertanya. Apakah beasiswa ini dapat di apply kalau sudah lulus saja?
    Soalnya rencana saya mau daftar beasiswa ini untuk S2 tapi sekarng blum lulus dan rencana lulus tahun 2014.
    terima kasih.
    GBU

    • Iya tentu saja bisa di-apply bgt setelah lulus. Tapi mungkin bisa ancang2 dari sekarang persiapkan dokumennya, seperti essay, surat rekomendasi, CV, juga yang cukup penting itu LoA (Letter of Admission/Acceptance) dari universitas. Berdasarkan pengalaman, untuk mendapatkan LoA cukup memakan waktu, jadi kalau berencana untuk apply S2 di tahun 2014, ya persiapannya bisa mulai dr sekarang untuk mendapatkan LoA 😀 . Sukses yah!

  6. Permisi.. Mau tanya, kalau dari pengalaman ana, yg lulus ke tahap pangayaan itu berapa org ya? Lalu dari pengayaan itu, yg lulus beasiswa LN berapa? Mau survey2 saja.. Makasih banyak ya 🙂

    • Waduh, klo dr tahap interview k pengayaan krg tw jg krn dr batch interview yg beda2 (beda kota), tp saya rasa ckp banyak jg yg lolos, tp tahap interview emg penentuan bgt… klo dr tahap pengayaan, batch saya lulus 100%, krn pd dasarny asal mengikuti pengayaan dgn baik, pst lulus kok 🙂 yg lulus beasiswa luar negeri itu byk bgt, jauh lbh byk dr yg dalam negeri. Klo gak salah, prnh ad yg bikin rekapitulasi ttg brp org awardee yg lulus beasiswa DN,LN,tesis,dll di grup fb, cm saya lupa dmn… nti ya klo ketemu… 🙂

  7. haaai… mbak Ana,
    aku juga lagi nunggu untuk wawancara lpdp, tapi untuk beasiswa tesis sih.
    setelah baca tulisan mbak ana, kok jadi deg-degan ya.. hiks..
    btw gimana belgia? kemaren g sempet main, cuma lewat brussels aja :3

    salam kenal, main ke blog aku ya.. :3

  8. malam kak ana,
    saya sudah lihat web LPDP ini, dan di salah satu persyaratannya dibutuhkan surat pernyataan tidak pernah melanggar hukum. saya agak bingung, apakah surat ini harus diurus sampai ke kepolisian?

    thanks a lot! 🙂

    • Nggak kok.. jadi surat pernyataannya itu sudah ada formatnya di web lpdp (di bookletnya).. Jadi isinya hanya surat pernyataan, ada beberapa poin (berbakti pada nusa&bangsa, tdk prnh melanggar hukum,dll), diketik sendiri, print, tanda tangan, scan, dan upload di web pendaftarannya 😉

  9. oya, salah satu syaratnya juga diperlukan surat keterangan dari tokoh masyarakat. nah, apakah dosen termasuk tokoh masyarakat?

      • wah. syukur deh kalo gt 🙂
        kalo boleh tau sekarang ini mbak ana akhirnya kuliah dimana?
        susah nggak sih dpt beasiswa lpdp ini? soalnya pasti banyak banget yg daftar..

        • Di Belgia, program Erasmus Mundus, Sefotechnut, bentar lagi hrs pindah negara,hehehehe…
          Menurut saya pribadi, beasiswa LPDP ini gak terlalu susah, persyaratannya juga ga gmn2, simpel, klo dibandingkan dgn beasiswa yg lain. Yg saya tahu, walau byk yg daftar, penilaian penerima beasiswa ini bkn berdasarkan peringkat siapa yg lbh baik, tapi mereka sdh pny standar tersendiri, jadi asal memenuhi syarat ,bisa dipastikan dapat beasiswa ini… Apalagi kuotanya cukup besar juga per tahunnya 🙂 jadi coba dulu aja, dapet pengalamannya aja seru kok! Hehehe… sukses yaaa 🙂

          • Thank you kak Anna 🙂
            Oya, untuk formulir pendaftaran yg ada di booklet lpdp itu apakah harus diketik ulang?
            di syaratnya ada “cetak formulir pendaftaran online” itu maksudnya yg mana ya?

          • Formulir pendaftaran itu CV yg kita isi di web LPDP itu lho,, hehe.. Nti klo uda beres diisi, bisan disave ke pdf, trs print deh 🙂

  10. Hai kak Ana, kalau saya adalah lulusan dr jurusan B Inggris, dan research proposal saya nantinya juga dalam B Inggris. Apakah rencana studi saya untuk daftar beasiswa lpdp ini ditulis dalam B Inggris atau B indonesia ya?

    • Hmmm, sepertinya gak masalah bahasa inggris/indo.. Rencana studi saya bhs indonesia sih -_- Tp reviewernya kan dosen jg, jd mrk pst ngerti bgt bhs inggris. Surat rekomendasi saya aja pk bhs inggris ga dipermasalahkan kok, hehehe.. Sukses yaa 🙂

  11. siang mbak ana…
    wah baca tulisannya kok saya jd ikutan deg2an yah… makasi sdh berbagi pengalamannya, jd semangat pengen ikut beasiswa lpdp jg… btw, smga hasil wawancaranya sesuai dg yg diharapkan.. 🙂

      • kak Anna, mau tny dong.. untuk daftar lpdp kan butuh nilai toefl, nah saya dulu pernah tes toefl tp di institusi bahasa kampus saya sendiri, jadi bukan dari alfalink ataupun online based test.
        kalo saya pakai nilai toefl itu untuk daftar lpdp bisa ngga ya?

      • oya kak ana, di syarat pendaftarannya kan butuh nilai toefl, nah, saya punya nilai toefl tapi dari institusi universitas saya, jadi bukan dari alfalink ataupun online test based.
        kalau saya pakai hasil toefl saya itu bisa ngga y?

        • Sorry for the late reply… Saya br cek di booklet LPDP jg soal TOEFL.. Klo tujuan univ nya dalam negeri, gak masalah kok TOEFL dr institusi kamu (TOEFL ITP). Tapi klo untuk tujuan luar negeri, mungkin ada baiknya ambil TOEFL internasional (IELTS/IBT/PBT), krn hampir smua univ di luar jg nerimanya TOEFL yg internasional. Mahal sih, tapi TOEFL ini emg ngecek apa kita bs nigkutin kuliahnya ato ga. Temen saya,beda negara, hasil TOEFL nya agak kurang, jd dia kadang agak susah ngikutin kuliah, jd hrs kerja keras bgt disini. Ada baiknya kita well prepared jg spy bs enjoy kuliahnya 🙂

  12. Dear Mba Ana,

    mau tanya tentang LPDP,

    1. kalau belum punya LoA kan tetap bisa daftar, berarti lampirkan hasil TOEFL/IELTS ya?
    2. pas registrasi di website kan ada pilihan universitasnya, misalnya saya pilih manchester university, tapi ternyata ngak keterima di sana dan keterimanya di nottingham university. itu bagaimana ya? apakah beasiswanya jadi gugur? thanks 🙂

    • 1. Yoi…
      2. Nggak gugur kok beasiswanya. Bisa diajukan untuk ganti universitasnya, selama universitasnya ms masuk persyaratan (top 200). Beberapa teman saya yg sudah keterima beasiswa LPDP, ada kok yg ganti univ. 🙂
      Sukses yak!

          • Hi kak Ana, saya ada pertanyaan tambahan. Kalau saya sudah punya conditional acceptance letter, tapi belum punya sertifikat IELTS/TOEFL (soalnya masih ngambil kelas prep). Apakah saya udah bisa daftar buat LPDP? atau harus punya unconditional offer dulu? Thanks in advance 🙂

          • Conditional letter menyatakan klo kamu sudah diterima kan ya? Condition-nya seperti apa? Apa diterima, tapi harus self-funded? Kalau ini condition yg ditetapkan dari univ, bisa ditanggung oleh LPDP. Tapi klo condition-nya harus IELTS/TOEFL lagi, mungkin beda lagi… Praktiknya, kalau sudah punya conditional acceptance letter, seharusnya IELTS/TOEFL tidak wajib lagi. Tapi biasanya, untuk dapat conditional acceptance letter (khususnya univ luar negeri) sendiri butuh IELTS/TOEFL. 🙂

          • Jadi conditional acceptancenya itu bukan karena funding ka, tapi karena belum submit sertifikat IELTS. Dikeluarkan dari universitas juga.. jadi kalau sampai bulan Juni saya ngak bisa provide sertifikat IELTS, offeringnya akan batal. Kalau pake conditional offering macam gitu bisa ngak ya? Thankss

  13. tulisannya keren bener.. aku juga ikutan LPDP lagi ngurus berkas berkasnya juga. cuma ngambil dalam negeri aj. di UGM. apa ada yang berbeda seleksi antara dalam dan luar negeri?

    • Sorry for late-reply! Thanks 🙂
      Kurang lebih sama. Krn sy ambil yg luar negeri, krg tw jelas jg bedanya sama yg dalam negeri. Yg sy tw, klo luar negeri, wawancaranya bisa pk bhs inggris dan pertanyaannya jg ada yg mengarah ke bagaimana adaptasi di negeri org. Selebihnya saya rasa krg lbh sama 🙂

  14. kak Ana, mau tanya dong. saya udah tes ielts dan nilai overall-nya 6. tapi 1 dari 4 band cm dpt 5,5. kalo daftar lpdp dgn nilai ilets yg seperti itu diloloskan atau nggak ya? atau sebaiknya tes lg?
    thanks 🙂

    • Maap telat bales! Yg diliat overall score-nya kok. Ielts saya jg cm 6 dan ada 1 yg 5.5, ditanyakan emg saat wawancara knp cm 6, tp krn saya sdh pny LoA (dan minimum requirement nya jg 6), nilai IELTS ga trlalu diliat. Tp krn pas minimum gt, akhirnya sama dosennya disuruh jwb pk bhs inggris,,
      Kamu ud pny LoA? Klo uda, mnrt sy gausa tes IELTS lg, mahal pula kan ya… hehehe.. Klo blum,coba saja dlu apply LPDP,tp yg jd pertimbangan, rata2 univ luar negeri skrg terima IELTS 6.5,jd dicocokan jg sama kebutuhan score IELTS dr univ tujuan.

      • Sekarang baru punya letter of offer sih, LoA nya blm dpt.. Iya, ini udah daftar kog. Kalo dari univ yg mau aku masuki nilai IELTS yg dibutuhkan 6, tapi tiap band ngga blh kurang dr 6. Ini lg coba tanya univnya sih, bs lolos atau ngga.
        Biasanya setelah daftar sampai dipanggil wawancara itu nunggu brp lm ya?
        thanks 🙂

        • Sep! Klo gasala sy smp nunggu 1 bulanan, krn mnj interview, ad seleksi administrasi dlu (cek kelengkapan persyaratan), lalu br direview & diseleksi oleh reviewer, klo lolos br bs wawancara 🙂 Semangat!!!

      • skrg ini baru punya letter of offer sih, LoA nya blm.. tp kmrn udah aku lampirkan kog.
        Oya, misalkan udah daftar, nanti pengumuman hasil seleksi admin nya diemailkah? atau kita yg harus rajin2 cek pengumumannya?
        thank you 🙂

        • Hasil seleksi adminnya, kalo pas jaman saya ga di-email, tapi pro-aktif sendiri liat2 pengumuman di essaynya. Nanti akan di-email mengenai detail wawancara kalau sudah lolos seleksi administrasi dan review 🙂

  15. halo…
    mau tanya dong kakak…
    kalau misalnya udah keterima di univ dalam negeri tapi belum kuliah, baru proses pendaftaran dan sebagainya terus baru mengajukan beasiswa lpdp, itu bisa gak ya?
    terima kasih

    • Coba aja dulu! Hrs-nya sih bisa ya, krn sy daftar jg dalam keadaan sdh diterima, mau mulai proses pendaftaran (tp kepentok di tuition fee) dan blum mulai kuliah.Sukses yak!

  16. salam. mba, tahun ini kan bukanya bulan maret. nah kalo misalnya udah sidang (februari insyaallah) tapi wisudanya mei, bisa apply ga? makasih mbaa 🙂

  17. salam kenal kak Ana…
    terimakasih kak atas informasinya, mau nanya nie kak apakah pada saat interviewnya adakah ditanyakan tujuan kita setelah tamat kuliah? saya rencananya pengen lamar jadi dosen setelah menyelesaikan pedidikan, saya pernah dengar kalau lpdp 2014 ini tidak dialokasikan untuk calon dosen. terimasih kak sblumnya..

    • Sepertinya rata2 rencana setelah lulus itu hampir pasti selalu ditanyakan 🙂 LPDP memang lebih diarahkan untuk calon pemimpin bangsa, karena untuk dosen sudah ada DIKTI. Tapi, kalau dari batch saya kemarin, banyak juga kok dosen dan calon dosen yang mendapat beasiswa LPDP. Cuma setahu saya, memang ada sedikit permasalahan memang dengan DIKTI, saya nggak tahu gimana jadinya sekarang -_- Saran saja sih, coba-coba saja, karena LPDP sangat fleksibel 🙂

  18. kak, biasanya kalo misalkan sdh selesai seleksi administrasi, di profil lpdp kita statusnya ada keterangannya atau ngga?
    soalnya aku daftar tgl 1 januari kmrn, dan skrg udah ada pengumuman yg lolos seleksi administrasi periode 27 november 2013 – 3 januari 2014, aku lihat namaku ngga ada. nah, apa berarti aku ngga lolos? atau mungkin blm diperiksa?
    soalnya aku cek tiap hari profilku ngga ada yg berubah.

    thank you

    • Maap lama balesnya ya >_< Seinget saya sih nggak ada perubahan kok… Tapi daftar tanggal 1 Januari, uda pengumuman lagi sekarang? Kok cepet amat yaaa? Coba ditunggu deh pengumuman selanjutnya. Atau tanya (telpon/email) langsung ke LPDP untuk konfirmasi pengumumannya 🙂 Tetep semangat mel!!!

      • kmrn udah aku telpon, katanya disuruh email. udah sejak 2 hari lalu tapi blm ada respon jg T__T
        kalo ga lolos seleksi admin gmn y kak? ga tau jg salahnya dimana 😦

        • Seleksi administrasi itu kan cuma mengecek kelengkapan, jadi klo ga lolos, berarti ada yg kurang dari persyaratan minimum yg disyaratkan… klo emg ga lolos, apply lg aja, sambil dicek lg semua persyaratannya 🙂 LPDPnya yg blg sendiri kok bs apply berulang kali 🙂 wish all the best yak! Klo soal email ga direspon itu, wajar kok, krn mrk sibuk bgt, jd berusaha mengerti mrk aja 🙂

  19. mau tanya mbak, kl saya punya conditional offering bisa ga ya untk melamar LPDP? lalu conditional offering ny format pdf, karena di kirim oleh universitas lewat email.. Kl misalnya bisa, nanti pas wawancara kan disuruh bawa dokumen resmi untuk diverifikasi, nah apakah boleh saya hanya mengeprint pdf conditional offering tsb? terimakasih

  20. salam kenal mbak, tahun ini mau apply lpdp. mau tanya untuk surat rekomendasi dari tokoh masyarakat yang bagusnya gimana ya mbak penulisannya. kebetula posisi saat ini saya sedang tidak bekerja, jadi dosen saya bersedia tanda tangan untuk form tsb. adakah contoh rekomendasi yang bagus gmn mbak? terima kasih banyak

    • Untuk surat rekomendasi, LPDP punya formatnya tersendiri. Coba cek di website-nya untuk liat form surat rekomendasinya. Nanti tinggal diisi sesuai pertanyaan yang ada di formatnya dengan dosen yang bersangkutan. Gpp kok, saya juga surat rekomendasinya dari dosen pembimbing 🙂 Sukses!

  21. Salam kenal mba, saya Zaky.. mmbaca tulisan mba mmbuat saya berdebar2 mnghdapi proses seleksi lpdp ini. saat ini sy sdg mnunggu hsl seleksi admin. sbg info, sy sdh mndptkn LoA dr univ. of manchester, IPK 3.61, prnah mnjabat ktua d 1 lmbga tk univ, 1 lmbaga ekstra univ dn 1 lmbaga tk skolah, pngalamn riset ad 6 dan satu yng dibiayai dikti. namun, Pnghargaan yng saya peroleh adlh 0 dn krya ilmiah cuma 1 itupun jurnal dr skripsi yng dpublikasikan universitas….klw tdk kbrtan sy mnta saran2 dn masukan dr mba Ana yng sdh lolos seleksi dn tnggapan mba trkait pluang sy lolos lpdp .. trimakasih sblmnya.

      • Saya agak lupa tentang prioritas bidang LPDP. Apakah bidang Zaky masuk prioritas juga? Kalau tidak masuk prioritas, Zaky harus bisa menyakinkan reviewer tentang bagaimana bidang ini (atau rencana selesai kuliah) bisa berkontribusi untuk Indonesia 🙂 Sukses!

        • Saya jg krg tw pastiny, trgantung staff sananya kan ya.. Tp saran saya, lengkapi IELTS/TOEFL dulu deh. Soalny saya pun yg dpt LoA (conditional krn funding),yg techincally mnrt LPDP ga perlu IELTS/TOEFL lg, pas wawancara ms ditanya IELTSnya berapa. 🙂 krn IELTS/TOEFL itu kan tujuanny utk yakinin univ/lpdp klo kita bakal survive dg kul bhs ing. Bisa kok! Smangat!

    • Waduh, saya sendiri kurang tahu pasti karena bukan saya yang seleksi, hehehe.. Tapi setahu saya yang bakal sangat membantu itu pengalaman kepimimpinan (karena point penting dari LPDP kan menjadi calon pemimpin bangsa). Kalau dari background akademik Zaky sih sudah bagus banget. Tinggal penilaian karakter Zaky (50% dari penilaian dari psikolog). Jadi saya juga bingung kasi saran seperti apa, hehe, jadi diri sendiri saja pas diwawancara, karena kalau pura-pura sepertinya mereka juga tahu (karena sudah profesional 🙂 Anyway, sukses yahh!

      • o, gtu ya.. iya mba Ana, kbtln utk LoA sy mmg unconditional offer dn IELTS sdh 6.5 (no less than 6.0), dn progrmnya Public Policy and Management mdh2an bs brmnfaat bwt indo pasca asean ecomic comunity 2015.. dr saran2 mba tsb, mdah2an sy ad pluang.. 🙂 tngl matengin wawancaranya mngkin, krn lihat yng lolos tmpk hebat2 trutama d background publikasi2 dn research2nya dn umumnya ambil master by research mngkin, sy jd agk minder n khwatir krn ambilnya maser by taught.

        Ok de mba, mksh sblmnya bwt saran2.nya, sukses utk study.nya dsana, smoga sy bs mngikuti sukses lpdpnya..:)

  22. o, gtu ya.. iya mba Ana, kbtln utk LoA sy mmg unconditional offer dn IELTS sdh 6.5 (no less than 6.0), dn progrmnya Public Policy and Management mdh2an bs brmnfaat bwt indo pasca asean ecomic comunity 2015.. dr saran2 mba tsb, mdah2an sy ad pluang.. 🙂 tngl matengin wawancaranya mngkin, krn lihat yng lolos tmpk hebat2 trutama d background publikasi2 dn research2nya dn umumnya ambil master by research mngkin, sy jd agk minder n khwatir krn ambilnya maser by taught.

    Ok de mba, mksh sblmnya bwt saran2.nya, sukses utk study.nya dsana, smoga sy bs mngikuti sukses lpdpnya..:)

  23. Halo mbak Ana.. Terima kasih sudah share pengalamannya.
    Saya mau tanya mbak. Saya sedang apply beasiswa LPDP untuk S2 di luar. Tapi, saya baru punya sertifikat ITP TOEFL. Sebelumnya saya sudah punya hasil tes IBT di tahun 2011. Karena masa berlakunya hanya 2 tahun, jadi saya meng-upload yg ITP dulu. Maklum kalau mau tes IBT lagi, bayarnya mahal hehe.. Mohon sarannya mbak, apakah boleh saya submit dulu yg ITP.
    Saya juga mau tanya mbak. Kalau dari seleksi administrasi ke wawancara berapa lama ya jedanya? Dari wawancara ke pengayaan juga berapa lama ya? Kebetulan saya kerja di salah satu perusahaan yang harus dari jauh2 hari minta ijin dulu kalau mau cuti.
    Makasih ya mbak..

    • Sepertinya nggak apa-apa TOEFL ITP dulu, bagaimana dengan LoA? Kalau sudah dapat LoA, kemungkinan besar tidak apa-apa 🙂
      Kalau batch saya waktu itu mungkin sekitar 1 bulan, dari wawancara ke pengayaan juga sekitar 1 bulan kalau tidak salah. Tapi sekarang sudah fix kok jadwalnya. Coba cek grup facebooknya untuk informasi terbaru 🙂 Saya copas di bawah ini dari grup:

      {INFO TERBARU MEKANISME SELEKSI BEASISWA LPDP 2014} Menurut informasi yang diterima dari beberapa peserta Program Kepemimpinan LPDP Batch 9, ada perubahan dalam mekanisme seleksi beasiswa LPDP mulai tahun 2014 ini. Berikut ini beberapa informasi yang berhasil dirangkum dari beberapa narasumber:
      1. Pendaftaran tetap dibuka sepanjang tahun
      2. Seleksi wawancara dilakukan sebanyak 4 kali dalam satu tahun, masing-masing pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember
      3. Peserta yang telah dinyatakan lulus wawancara, sebelum pengayaan harus mengikuti Leadership Group Discussion (ini mungkin yang terbaru dari seleksi 2014)
      4. Program Kepemimpinan diadakan setelah fase forum group discussion (FGD) sekaligus tahap seleksi terakhir
      5. Pelamar yang tidak lulus tahap 1 sampai 3 (administrasi, wawancara atau FGD), bisa mendaftar lagi
      6. Pelamar yang tidak lulus tahap 4 (PK), akan masuk daftar blacklist penerima beasiswa LPDP (informasi dari bung Alva Hendi Muhammad)

  24. Hi Mba Anna, salam kenal ya… mau tanya saat ini saya juga sedang persiapan untuk daftar LPDP. Khusus untuk surat rekomendasi apakah harus menggunakan template yang ada di booklet? Ataukah bisa menggunakan format template lain (karena tadinya saya rencana untuk pakai recommendation letter dalam bahasa inggris yang dipakai untuk daftar Uni (yang alhamdulillah sudah diterima dan dapat LOA).. mohon pencerahannya ya… karena saya belum sempat meminta surat rekomendasi dengan versi template booklet.

    Atau mungkin ada informasi dari teman sesama penerima beasiswa LPDP yang diterima walaupun menggunakan surat rekomendasi format lain? Thanks infonya Mba…..

    • Bisa2 🙂 saya sendiri pake surat rekomendasi dgn format lain dan dalam bhs Inggris pula^^ Waktu wawancara reviewer oke2 saja dgn srt rec saya 🙂 semangat! Sukses!!!

  25. mba kmrn saya ga lolos administrasi.. 😦 itu bisa di tarik lagi abis itu apply ga yah? kalo iya caranya gimana?
    saya buat akun baru juga ga bisa katanya ktp + nama udah kedaftar 😦 😦

    • Dari tim LPDP nya sendiri bilang kalau gagal kita bisa apply lagi berulang kali kalau tidak lolos administrasi. Tapi untuk masalah teknis di web-nya, saya juga kurang tahu, maap 😦 Mungkin bisa tanya di grup facebook-nya, sepertinya banyak yang punya masalah yang sama 🙂

  26. Hi Ka Ana,

    Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan (lagi. hehehe.) terkait pendaftaran beasiswa magister luar negeri LPDP, yaitu sebagai berikut:

    1. Salah satu persyaratan adalah Surat izin (bagi yang sudah bekerja) atau Surat rekomendasi dari tokoh masyarakat/ atasan (bagi yang sudah bekerja).
    Apabila saya sudah bekerja, namun tempat kerja sekarang tidak mengizinkan untuk studi, apa yang sebaiknya saya lakukan? Apakah bisa mengunggah Surat rekomendasi dari tokoh masyarakat saja? Karena saya berencana akan resign apabila berhasil mendapatkan beasiswa LPDP.

    2. Apakah ada format dokumen .doc yang dapat diunduh terkait surat pernyataan/surat rekomendasi? atau kita convert/ketik ulang saja dari booklet LPDP?

    3. Apabila saya mendaftar LPDP di bulan Mei 2014, apakah saya bisa mulai studi di pertengahan September 2014? karena saya baru saja mendapatkan LOA 🙂 🙂

    Terima kasih sebelumnya 🙂

    • Halo 🙂
      1. Bisa kok menggunakan surat rekomendasi dari tokoh masyarakat (saya pakai surat rekomendasi dari dosbing). Dari persyaratannya sendiri kita bisa memilih mau pakai surat rekomendasi dari atasan atau tokoh masyarakat. Tapi kan, memang lebih baik kalau surat rekomendasi berasal dari orang yang sudah kenal kita.
      2. Ya, ada format-nya. Tapi waktu itu belum bisa diunduh, jadi saya convert manual dari booklet LPDP.
      3. Bisa banget 🙂 Saya juga rasanya mendaftar sekitar April/Mei 🙂

  27. mba Anna, saya berencana utk daftar beasiswa LPDP sehingga bisa melanjutkan S3 di salah satu Universitas di luar negeri. Apakah essay ttg ‘peranku untuk Indonesia’ dan ‘sukses terbesar dalam hidupku’ perlu ditulis menggunakan bahasa Inggris atau bisa memakai bahasa Indonesia saja? terima kasih sebelumnya..

  28. hi ana, aku cily
    ak juga dapet LOA dari erasmus mundus trus akhirnya daftar LPDP dan ternyata ak ga lolos LPDP, sedih banget dan ga tau kenapa. Aku kira gara-gara LPDP mungkin ga mau ngebiayain buat erasmus yang pindah pindah universitas. Boleh dong bales ke email aku yasrinayuliasari2@yahoo.com karena ada beberapa hal yang ingin ak tanya tapi ga enak kalo disini.
    makasiii

  29. Salam kenal, Mbak. Untuk organisasi yang pernah diikuti tapi tidak mempunyai sertifikat sebagai bukti, baiknya dimasukkin atau nggak usah? Hehe. Terimakasih

    • Dimasukkan saja 🙂 Saya juga nggak semua organisasi yang pernah saya ikutin ada sertifikatnya. Tapi pas wawancara sempat ditanyakan tentang kegiatan organisasinya, tapi gak diminta kasi liat sertifikatnya kok 🙂

  30. Hallo mba, saya berminat untuk apply LPDP untuk program Doktor di US. Kalau ga keberatan, boleh tahu besarnya stipend LPDP per bulannya berapa ya? kalau too personal boleh dikirim ke email saya saja. Maaf kalau merepotkan..trims yaa..

    • Kebetulan saya akan tesis di US juga (pindah benua dari Eropa), dan mereka sangat fleksibel bisa menyesuaikan std living allowance di sana. Untuk living allowance, tenang saja karena sesuai dengan standar minimal yang ditetapkan (1300 USD). Bahkan ada tunjangan keluarga juga. Jadi kalau masalah biaya hidup, saya rasa tidak perlu khawatir, karena LPDP memang menyesuaikan supaya kita bisa konsentrasi belajar. 🙂

  31. Mbak, mau nanya apa ada timeline seleksi beasiswa LPDD batch Juni ini ya ? Saya udah nyari di mana – mana tapi ga ketemu.
    Jadi saya dpt jadwal interview tanggal 17-18 Juni, itu berarti wawancara dan FGD-nya dilakukan di dua hari itu ya ?
    Terus dari jadwal yang saya ketemu di internet hasil pengumumannya tanggal 25 Juni. Kira – kira jadwal PK-nya kapan ya ?

    Soalnya saya harus ngatur jadwal kerja saya 2 minggu kerja di kalimantan 2 minggu off.

    Terima kasih

  32. salam kenal mbak Ana.. kalau toeflny itu harus lembaga khusus.. atau boleh semacam LIA.. n kalau dalam negeri itu harus dpt LOA juga? mohon jg kalau berkenan di kasih contoh essay n study plan nya ke adeimaniarsyad@yahoo.co.id.. makasih banyak..

    • Kalau saya sendiri menggunakan IELTS karena diharuskan dari program masternya. Kalau dalam negeri saya kurang tahu pastinya, tapi sepertinya toefl institusi dibolehkan. Iya, dalam negeri juga harus melampirkan LoA. Seingat saya waktu itu teman-teman saya minta ke universitasnya secara kolektif supaya dimudahkan 🙂

  33. Mbak, Saya baru mendapat info kelulusan seleksi berkas saya, saya pilih Magister Luar Negeri tetapi di pengumuman saya masuk di kelompok Dalam Negeri, nah… gimana tuh Mbak, perasaan saya gak salah. apakah pihak LPDP mau memperbaiki kekeliruan ini mbak? Saya jd galau atas pengumumannya 🙂
    Oia mbak, kalau udh dpt LoA berarti udah resmi diterima d Univ tsb atau ada ujian masuknya lagi?seperti ujian tertulis, EJU, dll? Mohon Bimbingannya mbak 🙂
    Trims

    • Iya, segera lapor ke pihak LPDP. Memang kadang ada kekeliruan, tapi mereka terbuka kok untuk memperbaiki kalau memang salah 🙂

      Tergantung LoA-nya, karena kadang ada LoA yang conditional, misal harus IELTS dulu sampai nilai tertentu. Tapi sebagian besar ya sudah diterima dan nggak ada tes2 lagi. 🙂

  34. Mbak ana, saya Devy Zega. Selasa ini akan menjalani seleksi wawancara LPDP. Namun surat rekomendasi saya hanya berupa PDF yang nantinya akan saya print, apakah akan menjadi masalah dlm verifikasi berkas?

    • Waduh saya juga kurang tahu. Tapi sepertinya sih tidak masalah untuk surat rekomendasi. Yang paling penting kan ijazah, LoA, dll. Apakah dari pemberi rekomendasi sendiri hanya memberikan soft copy? Berikan penjelasan saja bila ditanyakan sama petugasnya. Anyway, sukses wawancaranya!!!

  35. Hi Mbak Ana, so glad that I stumbled upon your blog. Sangat membantu saya yang juga berencana untuk apply beasiswa LPDP ini. Saya pengin tanya ya, Mbak. Kalau sekiranya saya apply di Uni yang start datenya September 2015 apakah masih keburu jika saya apply untuk beasiswanya untuk batch March 2015? Thanks in advance 🙂

    • Hi Dee! Yup keburu banget. Saya juga apply-nya sekitar Maret untuk kuliah September. Temen saya yang apply setelah saya juga bahkan masih bisa apply LPDP dan kuliah di next Septembernya. Mungkin yang bakal mepet adalah saat apply visa (tergantung negara juga), jadi mungkin bisa dicicil dokumen untuk apply visanya kalau sekiranya lama. Sukses yahh…!! Wish you luck!

    • Untuk pendaftaran dan LoA tentunya beda tiap universitas. Mungkin bisa mulai ke web universitas incarannya dan cari tahu cara mendaftar. Biasanya sih awalnya you made contact dengan calon profesor. After that, biasanya dikasitahu detail kelanjutannya seperti apa. Kalau saya pada awalnya memang ingin ikut program Erasmus Mundus (bisa cek di google), lalu saya pilih jurusan yang saya minati dan tinggal ikuti saja semua prosedur yang mereka minta (tiap program berbeda). Tapi karena in the end, saya diterima programnya tetapi tidak dapat grant-nya, saya apply LPDP dengan menyertakan LoA. Cara mendaftar LPDP juga tinggal google aja dan masuk web LPDP. Sudah jelas banget kok step-step-nya, hehe.. Tinggal diikuti saja.
      Coba deh gabung grup LPDP di facebook, tinggal searching2 saja, ada tips2 mendapat LoA dari teman2 yang sudah dapat LoA 🙂 Semoga berguna ya 🙂

  36. Aslkum. Maaf kalo sy brminat ambil LN trus untuk mndptkn LOA itu thapannya kyk gmn?mnrut pngalamn mbak sj kan ambil LN jg. Soalny sy sngat buta mslah pndidikn LN. Trimksi sblmx wslm.

    • Kebetulan program (Erasmus Mundus) yang saya ambil agak berbeda dengan program pada umumnya. Jadi untuk mendapatkan LoA, ya tinggal coba google Erasmus Mundus, masuk web-nya, lalu pilih jurusan yang diminati, dan ikuti semua prosedurnya. Nanti akan ada 3 kemungkinan: 1) accepted dan dapat grant 2) accepted tapi tidak dapat grant-nya (dari Uni Eropa) 3) not accepeted. Kalau accepted, dapat grant atau tidak, akan dapat LoA karena sudah memenuhi kualifikasi mereka.
      Kalau pada umumnya sih, tentunya berbeda tiap universitas. Jadi mungkin bisa dimulai dari ngubek2 web resmi universitasnya dan start daftar programnya (bisa tanya sama bagian administrasinya, I guess) atau email2an sama calon profesornya bilang kita mau research di bimbingan dia, nanti pasti dia pandu.

      Untuk lebih banyak tips, bisa gabung grup LPDP di facebook, cari thread cara mendapatkan LoA. Disana sudah banyak share sepertinya tips untuk mendapatkan LoA. Well, good luck for yoU!!!

  37. Maaf msih ada prtnyaan. Kalo semislnya ijsah S1nya dr univ. Swasta tp trkreditasi B tpi kelas ekstensi sbtu minggu tranfer dr D3 kmpus kementerian perindustrian bs apply lpdp gak?

    • Waduh, kalau hal spesifik ini saya juga kurang tahu.. Bisa langsung ditanyakan ke pihak LPDP-nya 🙂 Bisa telpon, atau datang langsung ke kantor LPDP-nya. Mereka welcome sekali kok 🙂

  38. hai kak, Saya Novi yg baru mendaftar LPDP bulan september 2014, pengumuman administrasi baru diumumkan kemarin dan alhamdulilah saya lolos administrasi. ini sedang menunggu pengumuman jadwal wawancara. saya ingin tanya kak, saya daftar di Univ dalam negeri. Saya belum paham cara mendapatkan LoA, apakah di dalam negeri juga harus mencari LoA dan pas wawancara LoA Akan ditanyakan juga saat wawancara.
    Mohon informasinya ya Kak, bisa di share lewat e-mail kalau tdk keberatan. Terima Kasih…!!!
    novitapuspitasari6@gmail.com

    • Hai! Congrats dan sukses ya wawancaranya! Iya, setahu saya di dalam negeri juga harus ada LoA. Tapi kan di universitas dalam negeri, hal ini belum terlalu lumrah, jadi setahu saya kemarin di batch saya, setelah mereka lolos seleksi univeristasnya tentunya, mereka ramai2 mengajukan untuk minta LoA. Tapi sekarang LPDP kan sudah well known, jadi dari pihak universitasnya seharusnya sudah aware dan mungkin sudah siap kalau dimintai LoA untuk LPDP.
      Waktu wawancara apakah akan ditanyakn, well, saya juga kurang tahu, karena wawancara tiap orang bisa berbeda-beda tergantung reviewer-nya. Tapi seperti yang sudah dikatakan, LoA itu tidak wajib saat mendaftar LPDP, karena akan diberi 1 tahun untuk mencari LoA jika lolos seleksi beasiswa LPDP-nya. Mungkin akan ditanyakan, tapi seharusnya tidak berpengaruh banyak pada hasil seleksi. Sukses yah!

  39. Mbk mau tanya, bedanya rekomendasi dari akademik dan tokoh masyarakat seperti apa ya? jujur masih bingung. karena 1. Surat rekomendasi dari akademik saya ambil dari dosen pembimbing, sedangkan tokoh masyarakat saya dari dosen yang snagat dekat dengan saya. cara membedakannya seperti apa ya? nuwun apakah KOP surat atau bagaiaman mbk?

  40. Hai ana, i just did my interview and felt really bad about it, aku nangis banjiir huhuuu skarang aku worry sekali apakah semua akan baik baik saja atau tidak, talking abiut parents always make me near with tears huhu sampai dbilang kamu yakin siap berangkat? Dang! But yaaaah sudah berlalu jugaaa…

  41. Selamat siang, Saya Lukman Supriadi. S1 saya sastra inggris. Saya lolos wawancara periode 2. Saat itu, saya mendaftar di UPI bandung, pilihan 1: pendidikan bahasa inggris, pilihan 2: linguistik. Ketika pengumuman seleksi universitas nama saya tercantum pada pilihan 2 (jurusan Linguistik), sedangkan saat wawancara lpdp saya menjelaskan tentang rencana studi di pendidikan b inggris UPI. Pertanyaan saya, manakah yang lebih baik; ambil di kampus yg masih tetap sama? Atau move ke LN dgn major tesol sesuai minat saya. AtauTambahan, saya juga belum mengisi LoS karena masih menunggu kepastian dari Universitas. Mohon petunjuknya untuk langkah kedepan yang harus saya ambil.Terimakasih atas responnya.

    • Waduh, itu sih kayanya di luar kuasa saya yah, haha 🙂 Tapi setahu saya di LPDP sendiri bisa pindah jurusan, jadi silakan putuskan yang terbaik 🙂 Kalau saya pribadi, saya akan jurusan yang benar-benar minat saya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s